Judul Berita : Kedisiplinan Menulis
Drs. Z. Bambang Darmadi, MM.
Disadari atau tidak bahwa kemampuan untuk berkata atau berbicara secara lisan dengan baik dan benar tidaklah mudah, apalagi kemampuan untuk menuangkan gagasan atau ide-ide dalam suatu bentuk tulisan yang lugas dan mudah dipahami oleh para pembaca, tentu dibutuhkan suatu latihan dan ketekunan secara terus menerus. Sebab dalam konteks kegiatan menulis dituntut kemampuan menginterprestasikan bahasa yang ada dalam alam fikiran menjadi tatanan kata, kalimat yang sesuai dan mudah dimengerti oleh orang lain. Maka sebagai dasar untuk memudahkan kerangka kerja tersebut tentu saja harus banyak dituntut membaca dan menggali pengetahuan dari berbagai sumber informasi lain yang terkait dengan buah pikiran yang akan ditulis.
Kegiatan menulis yang berbau ilmiah bagi para mahasiswa sepertinya telah menjadi bagian keseharian dalam proses pembelajaran, karena ada beberapa tugas dari matakuliah tertentu yang diberikan oleh para dosen harus dikerjakan dalam bentuk paper/makalah. Akan tetapi tugas-tugas seperti itu dapat terasa berat tatkala mahasiswa harus menyelesikan tugas akhir yang terkait dengan karya tulis, yakni membuat skripsi atau thesis.
Mengapa tugas akhir yang berwujud skripsi atau thesis masih dirasakan berat bagi sebagian mahasiswa ?. Karena menurut hemat saya, untuk merajut sebuah paparan tulisan dari obyek penelitian atau studi kasus dari suatu perusahaan atau organisasi yang benar-benar ilmiah, realistik, obyektif dan dapat dipahami secara logis berdasarkan metoda dan analisis yang relevan tidaklah mudah. Mungkin bagi sebagian orang yang terbiasa melakukan kegiatan tulis menulis tidak mengalami hambatan yang berarti. Akan tetapi bagi orang yang sama sekali asing dengan tulis menulis secara ilmiah, sungguh hal itu dapat menjadi momok. Maka tidak sedikit kita mendengar keluhan dari mahasiswa yang sedikit stres tatkala harus segera menyelesaikan tugas akhir. Kondisi yang demikian itu tentunya banyak penyebabnya, antara lain karena adanya perasaan takut terlebih dahalu padahal belum dicoba, sulitnya mencari obyek penelitian atau studi kasus yang cocok dengan kemapuan mahasiswa yang bersangkutan.
Memang kalau kita mau jujur, sebenarnya untuk mampu menulis secara baik, lebih-lebih tulisan ilmiah memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan orang yang pandai dan lancar ber-retorika atau berbicara saja belum tentu mampu mempaparkan dalam wujud tulisan yang baik. Lebih-lebih kemampuan untuk menulis di media massapun masih banyak dirasakan sulit bagi para pendidik atau para dosen. Padahal bila mau melatih diri secara terus menerus dengan kemauan yang tinggi kesulitan tersebut perlahan-lahan pasti dapat diatasi. Perlu disadari bahwa kemampuan untuk terus menulis bagi tenaga pendidik atau pengajar merupakan salah satu bagian tugas wajib yang melekat dan harus dilaksanakan. Karena salah satu ciri dari masyarakat ilmiah sebenarnya dapat diukur melalui seberapa banyak karya ilmiah atau karya tulisannya telah banyak terpublikasikan. Satu hal yang perlu dicermati adalah bahwa, orang yang senang membaca bukan berarti identik pasti suka menulis, akan tetapi seorang penulis harus suka dan banyak membaca. Mengapa harus banyak membaca ?. Karena dengan banyak membaca, kita tidak akan kehabisan suatu ide-ide atau gagasan-gagasan dan dengan banyak membaca maka akan selalu bertambah pengetahuannya.
Maka disaat kita sudah menemukan ide-ide, maka langkah selanjutnya adalah dengan mulailah berani meruntunkan permasalahan yang hendak dikupas dalam wujud tatanan kata dan kalimat hingga menjadi suatu bentuk tulisan yang dapat dipahami dan bernilai bagi pembaca.
Kegiatan membaca tidak harus dengan memiliki buku sendiri, akan tetapi dapat diupayakan dengan mendatangi toko buku atau perpustakaan, atau bahkan dapat pinjam dari rekan lain. Secara ekonomis, pengetahuan yang didapat dari membaca buku relatif lebih murah, karena kita memperoleh pengetahuan sepanjang hidup. Keharusan membaca walaupun hanya sebentar, tetapi dilakukan secara rutin akan lebih baik dari pada sama sekali tidak melakukan. Tidak ada penulis yang baik itu dilahirkan, akan tetapi menjadi seorang penulis dapat dibentuk dengan kedisiplinan yang tinggi dan ketekunan serta banyak membaca. Sebuah hasil karya tulisan akan semakin bermakna bagi orang lain, apabila karyanya semakin banyak dibaca dan dimengerti oleh orang lain. Oleh karenanya bila para mahasiswa mendapat tugas-tugas yang harus dibuat dalam bentuk paper/ makalah/skripsi atau tugas lain, jangalah dipandang sebagai momok, akan tetapi lakukan dengan senang, tekun dan banyak membaca, lalu berani memulainya. Kondisi ini akan dapat terwujud manakala ada unsur keseriusan dan ketekunan untuk berlatih dan berlatih secara disiplin serta pantang mundur, niscaya keberhasilan ada di hadapan anda. Bahkan saat ini dunia tulis menulis, bila mampu dikembangkan dengan baik khususnya di media massa dapat sebagai peluang bagi pengembangan pribadi menjadi manusia yang unggul dan merupakan salah satu wujud kreativitas intelektual serta dapat sekaligus sebagai lapangan kerja tambahan. Lalu orang yang seperti apa layak untuk menjadi penulis? Jawaban atas pertanyaan ini adalah mereka-mereka yang harus menyintai bahasa dan mampu mengeluarkan gagasan/ ide-ide secara tertulis dan komunikatif dengan didasari tingkat kedisiplinan diri yang tinggi dan terfokus pada suatu masalah. Menurut YB. Margantoro (2001), peluang dunia tulis menulis dapat dikatakan sebagai lapangan kerja yang istimewa, karena dalam kegiatannya tidak membutuhkan kantor dan hasilnya relatif dapat memuaskan. Seorang penulis tidak perlu mengalami proses melamar kerja, mengikuti testing yang berat dan melelahkan. Seorang penulis cukup menulis karya-karyanya di rumah atau ditempat lain, kemudian mengirimkan hasil karya tulisnya keberbagai lembaga/ organisasi atau ke media cetak, lalu kita tinggal menunggu hasilnya, jika nasib baik dan hasil karya tulisannya dimuat, maka rejeki tambahan datang pula.
* Drs. Z. Bambang Darmadi, MM (Pernah dimuat di Harian Pikiran Rakyat Bandung, tanggal 12 Februari 2005) |